A. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang
secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Dalam bahasa
Arab, media adalah perantara () atau pengantar pesan dari pengirim kepada
penerima pesan.
Menurut
Gerlach dan Ely (1971), media apabila dipahami secara garis besar adalah
manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu
memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Sehingga guru, buku teks dan
lingkungan sekolah marupakan media.
Fleming
(1987: 234) menyatakan media berfungsi untuk mengatur hubungan yang efektif
antara dua pihak yaitu siswa dan isi pelajaran.
Hainich dan
kawan-kawan (1982) mengemukakan istilah media sebagai perantara yang mengantar
informasi antara sumber dan penerima.
Kesimpulannya,
media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari
pengirim ke penerima. Sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
1.
Media Pembelajaran
Media
pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang
bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran menurut Gagne
dan Briggs (1975) media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan
untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari buku, tape recorder,
kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar), foto, gambar,
grafik, televisi dan computer.
2.
Media Pendidikan
Adapun
pengertian media pendidikan itu antara lain:
a. Media
pendidikan memiliki pengertian fisik (hardware) atau perangkat keras, yaitu
sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar atau diraba dengan panea indera.
b. Media
pendidikan memiliki pengertian nonfisik (software) atau perangkat lunak, yaitu
kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang
ingin disampaikan kepada siswa.
c. Penekanan
media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
d. Media
pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam
maupun di luar kelas.
e.Media
pendidikan dapat digunakan secara missal (radio, TV), kelompok besar dan kecil
(film, slide, video, OHP), atau perorangan (modul, computer, radio,
tape,/kaset, video recorder).
Jadi
kesimpulannya, media pendidikan adalah perantara yang membawa informasi atau
pesan-pesan sebagai sumber belajar, baik berupa software dan hardware. Contoh
media pendidikan adalah gambar, foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik,
kartun, poster, radio dan lain-lain.
3. Media
Massa
Media massa
berasal dari dua kata, yaitu media dan massa. Media adalah alat atau perantara,
sedangkan massa adalah orang banyak dan masyarakat umum. Jadi dapat disimpulkan
bahwa media massa adalah suatu perantara untuk menyampaikan pesan kepada
masyarakat atau orang banyak. Pesannya itu mengandung informasi-informasi yang
diperlukan masyarakat, baik mengenai politik, sosial, ekonomi, maupun budaya.
Sehingga dengan adanya media massa masyarakat mendapat pengetahuan tentang
negaranya. Contoh dari media massa adalah surat kabar dan Koran.
B. Landasan Teoritis Media Pembelajaran
Media adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat si
penerima pesan. Di dalam proses penyampaian informasi ini dengan menggunakan
saluran (media) maka komunikan akan menerima informasi/pesan tersebut melalui
kelima panca inderanya (penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan
pengecap).
Ada beberapa
tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain landasan
filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
- Landasan filosofis.
Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya
berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses
pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam
pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat
kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat
belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak
berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu
muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses
pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki
kepribadian, harga diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda
dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak,
proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
- Landasan psikologis.
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses
belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat
berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga
sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di
samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna
persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi
hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung
secara efektif. Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang
tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang
diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan
pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah
mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum
konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada
beberapa pendapat.
- Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa.
- Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
- Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol.
- Landasan teknologis.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi
komunikasi dan informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya
berpengaruh terhadap pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang
semakin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan pola
tradisional, karena cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan
masyarakat. Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam
pendidikan. Banyak yang dharapkan dari alat- alat teknologi pendidikan yang
membantu mengatasi berbagai masalah pendidikan sehingga dapat membantu
siswa belajar secara individual dengan efektif dan efisien.
Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
Dalam konteks pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
1. Meningkatkan produktivitas
pendidikan ( Can make education more productive). Dengan media dapat
meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju
belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan
mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak
membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
2. Memberikan kemungkinan pembelajaran
yang sifatnya lebih individual (Can make education more
individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam
variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran,
dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan
dan kesempatan belajarnya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap
pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base). Artinya
perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran
dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan
pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disaign pembelajaran
dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara
ilmiah.
4. Lebih memantapkan pembelajaran (Make
instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
5. Dengan media membuat proses
pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more
immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta didik dan
sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam
memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak secara
langsung.
6. Memungkinkan penyajian pembelajaran
lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal)[1].
4. Landasan empiris.
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat
interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa
dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan
yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan
karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar
visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media
visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang
memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio,
seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan
siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.
Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media
pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus
mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik
materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
5. Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media
pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran ditinjau dari sejarah
konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Perkembangan konsep media
pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau
alat bantu visual sekitar tahun 1923.
C. Ciri-Ciri Media Pembelajaran
Gerlach dan
Ely telah mengungkapkan betapa media pembelajaran sangat dibutuhkan dalam
kegiatan belajar mengajar. Pada tahun 1971, mereka telah mengemukakan bahwa
media pembelajaran dalam dunia pendidikan dapat berperan penting. Media
pembelajaran dapat menggantikan peran guru yang tidak dapat guru lakukan.
Media pembelajaran memiliki paling tidak memiliki 3 ciri penting, yaitu:
(1) ciri fiksatif; (2) ciri manipulatif; dan (3) ciri distributif. Berikut kita
bahas secara lebih mendetail satu per satu.
- Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Media
pembelajaran memiliki kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan
merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Banyak kejadian-kejadian penting
atau objek-objek yang harus dipelajari oleh siswa. Kejadian-kejadian itu tentu
saja sering kali sudah berlalu, misalnya saja peristiwa-peristiwa bersejarah
yang terjadi di suatu negara. Siswa dapat mepelajari bagaimana peristiwa atau
kejadian-kejadian itu melalui rekaman video dokumentasi, dan foto-foto.
Objek-objek biotik ataupun abiotik yang unik dan harus dipelajari oleh siswa
dapat dihadirkan dengan gampang diruang kelas dengan rekaman video atau foto.
Peristiwa dan objek-objek pembelajaran dengan demikian dapat dihadirkan setiap
waktu jika dikehendaki.
- Ciri Manipulatif (Manipulative Property)
Kejadian
yang berlangsung berhari-hari bahkan bertahun-tahun dapat disajikan dalam waktu
beberapa menit saja. Banyak peristiwa atau objek yang sulit diamati secara
langsung dengan mudah diamati melalui media pembelajaran berupa rekaman video
dan foto. Bayangkan, siswa dapat mempelajari bagaimana proses pertumbuhan dan
perkembangan embrio di dalam kandungan ibu hanya dalam waktu 10 sampai 15
menit. Proses ini aslinya berlangsung selama 9 bulan di dalam tubuh ibu. Dengan
bantuan teknologi khusus dan proses perekaman yang kemudian dilakukan
manipulasi, waktu dapat dipersingkat dengan mempercepat dengan hanya menampilkan
kejadian-kejadian penting saja. Selain itu, bahkan proses dapat diputar balik
dan diulang-ulang. Kejadian yang berlangsung cepat juga dapat diperlambat.
Teknologi telah menjadikan media pembelajaran mempunyai peranan yang amat
penting untuk memberikan pemahaman akan suatu peristiwa atau objek bagi siswa.
Manipulasi kejadian atau objek dengan jalan mengedit hasil rekaman dapat
menghemat waktu. [2]
- Ciri Distributif (Distributive Property)
Dengan
penggunaan media pembelajaran, kejadian atau objek pada suatu tempat dapat
disebarkan ke tempat lain dengan mudahnya. Rekaman film dan foto, pada era
digital sekarang dengan sangat mudah didistribusikan tanpa terkendala ruang dan
waktu. Kejadian di daerah-daerah yang sulit atau bahkan tidak mungkin
dikunjungi oleh siswa dapat dihadirkan di ruang kelas mereka tanpa memerlukan
banyak usaha keras. Penggunaan internet atau perangkat penyimpan data seperti
flashdisk, CD, dan sebagainya memudahkan bahan-bahan pembelajaran tersebut
didistribusikan. Konsistensi informasi yang terdapat didalamnya akan selalu
terjaga sebagaimana aslinya.
DAFTAR PUSTAKA
Azhar Arsyad,
2011, Media Pembelajaran, Jakarta : Raja Gravindo Persada
Terdapat jenis-jenis Media pembelajaran seperti Media audio, Media visual dan Media Audio Visual. Tolong jelaskan manfaat Ketiga Media tersebut dalam pembelajaran?
BalasHapusSetiap media berfungsi untuk mempermudah siswa memahami pembelajarar, jika media visual berupa suara sedang kan audio berupa gambar, animasi dan lainnya sedangkan audio visual baik gambar dan juga suara
Hapusdari postingan anda diatas ada kata"dehumanisasi", bisakah anda jelaskan maksud dehumanisasi dalam pendidikan serta berikan contohnya?
BalasHapusMenurut KBBI dehumanisasi /de·hu·ma·ni·sa·si/ /déhumanisasi/
Hapusn penghilangan harkat manusia. DEHUMANISASI merupakan suatu proses yang menjadikan manusia tidak sesuai dengan kodratnya sebagai manusia,melainkan hanya bisa menirukan atau melaksanakan sesuatu yang di ukur dengan apa yang di milikinya dalam bentuk tertentu.Dehumanisasi dapat ditafsirkan sebagai akibat kemerosotan tata-nilai. Mereka yang menjadi korban dehumanisasi kehilangan kepekaan kepada nilai-nilai luhur, seperti kebenaran, kebaikan, keindahan(estetik) dan kesucian. Mereka hanya peka dan menghargai nilai-nilai dasar, seperti materi (pemilikan kekayaan), hedonisme (kenikmatan jasmani) dan gengsi (prestise). Tiga nilai inilah, yaitu materialisme-hedonisme-prestise, yang menjadi dasar dari tata-nilai bagian besar dari masyarakat kita dewasa ini. Dan karena tidak disantun oleh nilai-nilai yang lebih tinggi, khususnya nilai kebaikan (etik, moral) dan kesucian (agama), di dalam mendapatkan nilai-nilai dasar itu mereka menghalalkan segala cara. Korupsi, kolusi dan nepotisme serta (bahkan) kekerasan adalah cara yang sah; maksiat, kecabulan dan pemadatan adalah perilaku yang wajar; gengsi, sebagai kebalikan dari harga-diri (sense of honour), menampakkan dirinya dalam sifat tak bermalu dan bahkan cenderung membanggakan hasil kejahatan. Semua itu adalah gaya hidup yang sesuai bagi masyarakat dengan tata-nilai rendah sebagai akibat proses dehumanisasi itu.
Dehumanisasi terjadi manakala kita mulai menganggap musuh kita sebagai sesuatu di bawah manusia (kurang dari tingkat manusia). Kita menganggapnya sebagai ’demon’ atau hewan sehingga kita bisa berempati dengan deritanya ketika kita menyerang dan membunuhnya. Hal ini berhubungan dengan pseudospeciation, dengan cara itu kita menganggap musuh kita sebagai species yang lain. Dimetrios Julius menemukan fenomena yang menarik tentang dehumanisasi:
Hapus“Poin penting yang perlu dicatat di sini adalah bahwa proses dehumanisasi orang lain ini juga mempunyai cara dehumanisasi individu itu sendiri…Saat kita menolak martabat dan rasa hormat terhadap orang lain, kita juga mulai kehilangan kemanusiaan dan rasa hormat diri sendiri” (julius, 2001:46).
Akibatnya, semakin kita dehumanisasi musuh kita, kita pun menjadi semakin kurang manusiawi (less human). Siklus ini mengabadikan kemampuan dan keinginan kita untuk membunuh musuh kita; bahkan memudahkan kita untuk melakukannya. Rafael Moses mengkaji konsep ini dan mengemukakan bahwa karena proses demonisasi dan dehumanisasi, kita bisa membunuh tanpa merasa salah karena dua alas an: pertama, kita berurusan dengan sesuatu yang kurang manusiawi (less than human); dan kedua, subhuman ini mengancam kelangsungan hidup kita sendiri, karenanya agresi kita dibenarkan demi mempertahankan diri. Mendehumanisasikan musuh. Masyarakat lebih luas mungkin tidak merestui tindakan-tindakan ini, tetapi secara tersirat mereka mengijinkan tindakan itu dilakukan atas nama mereka.
Dehumanisasi memang merupakan fakta sejarah tetapi tidak berarti manusia harus menerima hal tersebut sebagai fakta sejarah yang terberi. Secara aktual-empiri, di panggung publik deretan maksiat yang terkait dengan narkoba, judi dan prostitusi masih kokoh menjadi penyakit masyarakat. Bersumber dari krisis multidimensi dan krisis moral, deretan maksiat tersebut diperpanjang lagi oleh maraknya korupsi, kebohongan, kekerasan yang kemudian bersambung lagi dengan kejahatan, premanisme dan perdagangan manusia. Potret buram ini, benar-benar menunjukkan adanya segmen masyarakat yang khaostik, alienasi dan sedang dalam dehumanisasi.
Secara semantik, dehumanisasi terjadi tatkala nilai-nilai luhur yang ada dalam teks ideologi, budaya dan agama tidak lagi berfungsi efektif sebagai pegangan hidup manusia sehari-hari, sehingga kebudayaan kehilangan dukungan kolektif dan manusia cenderung hidup tanpa basis keluhuran kebudayaan. Dalam habitat seperti itu, manusia cenderung berperilaku sebagai serigala satu terhadap yang lain. Moral dan etika kehidupan sangat rapuh, jati diri terombang-ambing dan keharkatan berkembang makin nihil. Kehidupan mengalami kevakuman kultural. Fisik, rasio, rasa dan hati nurani tidak dalam kondisi seimbang.
Suatu kenyataan bahwa di dunia ini sebagian besar manusia menderita sedemikian rupa, sementara sebagian kecil lainnya menikmati jerih payah orang lain dengan cara-cara yang tidak adil. Persoalan inilah yang disebut oleh Paulo Freire sebagai “situasi penindasan” yang apapun nama dan alasannya adalah tidak manusiawi; dengan kata lain, dehumanisasi. Dehumanisasi, dalam pemahaman Freire, adalah bersifat ganda, dimana ia terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas dan juga atas diri minoritas kaum penindas.Kedua-duanya menyalahi kodrat manusia sejati (the man’s ontological vocation). Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak manusiawi karena hak-hak asasi mereka dinistakan.
DEHUMANISASI merupakan suatu proses yang menjadikan manusia tidak sesuai dengan kodratnya sebagai manusia,melainkan hanya bisa menirukan atau melaksanakan sesuatu yang di ukur dengan apa yang di milikinya dalam bentuk tertentu.
Hapussedikit ingin menmbahkan Dalam proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale diatas mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan diperoleh oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat abstrak. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan peserta didik dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan-pesan dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan peserta didik sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).
BalasHapusberikan contoh landasan empiris!
BalasHapussiswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Contohnya Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film.
Hapusmenurut anda landasan mana yang paling penting dalam multimedia pembelajran?
BalasHapussemua landasan tersebut penting karena memiliki fungsi dan maksud berbeda2 dalma setiao landaasan dimana tujuannya sama saja dalm hal mempermudah guru menjelaskan dan mempermudah siswa menerima pelajaran
HapusSetiap landasan itu penting tergantung kepada guru untuk menjelaskan dengan media apa sehinga siswa itu dapat dengan mudah memahami
HapusBagaimanakah ciri atau karakteristik media pembelajaran yang baik?
BalasHapusMedia pembelajaran yang baik adalah media yang bertujuan yntuk mempermudah dan sesuai dengan kebutuhan pada materi yang digunakan
Hapuspenerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi, apakah dehumanisasi tidak dapat dihindari?
BalasHapusDEHUMANISASI merupakan suatu proses yang menjadikan manusia tidak sesuai dengan kodratnya sebagai manusia,melainkan hanya bisa menirukan atau melaksanakan sesuatu yang di ukur dengan apa yang di milikinya dalam bentuk tertentu. Bisa dehumanisasi dihindari tergantung kepad siswa nya
HapusDEHUMANISASI merupakan suatu proses yang menjadikan manusia tidak sesuai dengan kodratnya sebagai manusia,melainkan hanya bisa menirukan atau melaksanakan sesuatu yang di ukur dengan apa yang di milikinya dalam bentuk tertentu. Bisa dehumanisasi dihindari tergantung kepad siswa nya
Hapusjelaskan beserta contoh mengapa multimedia pembelajaran sangat diperlukan?
BalasHapusKarena multi medi akan memperjelas yang abstrak contohnya teori atom yang sulit menjelaskan lintasan Sehingga dengan media dapat memperjelas
Hapusmengapa pemilihan media perlu dilakukan? apa saja yang menjadi dasar pemilihan media?
BalasHapusKarena setiap kelas dan mateti berbeda akan membuat media yang digunakan juga berbeda. Hal yg mendasaryaitu kriteria siswa dalam kelas, materi dan keadaan
HapusTolong jelaskan keterkaitan dari kesemua landasan tersebut
BalasHapusMungkin maksut anda kriteria dari pemulihan media jika kerteria pemilihan landasan tergantung dari landasannya sendiri
Hapus